BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Tantangan pembangunan pada hakikatnya adalah mencapai
‘kesehatan bagi semua’, yakni terpenuhinya hak setiap orang untuk hidup sehat,
hingga dapat meraih hidup yang produktif dan berbahagia.
Untuk mencapai kondisi tersebut, perlu diupayakan
kegiatan dan strategi dalam setiap aspek kehidupan. Bukan saja aspek kesehatan,
tetapi diperlukan strategi pemerataan kesehatan dengan mendayagunakan segenap
potensi yang ada, baik di jajaran kesehatan, non kesehatan maupun masyarakat
sendiri, guna mengendalikan faktor lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan,
dan faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan.
Mengingat kesehatan mencakup seluruh aspek kehidupan,
konsep kesehatan sekarang ini, tidak saja berorientasi pada aspek klinis dan
obat-obatan, tetapi lebih berorientasi pada ilmu-ilmu lain yang ada kaitannya
dengan kesehatan dan kemasyarakatan, yaitu seperti ilmu sosiologi, antropologi,
psikologi, perilaku, dan lain-lain.
Kegunaan ilmu-ilmu tersebut dalam kesehatan dan
kemasyarakatan adalah sebagai penunjang peningkatan status kesehatan
masyarakat.
Salah satu cabang dari sosiologi dan antropologi
adalah sosial budaya dasar, yang membahas tentang kebudayaan dan unsur-unsur
yang terkait di dalamnya.
Di negara-negara maju, terdapat unsur-unsur kebudayaan
yang dapat menunjang tingginya status kesehatan masyarakat seperti pendidikan
yang optimal, keadaan sosial-ekonomi yang tinggi, dan kesehatan lingkungan yang
baik. Dengan demikian, pelayanan kesehatan menjadi sangat khusus sehingga dapat memenuhi kebutuhan klien.
Sebaliknya, di negara berkembang seperti Indonesia,
unsur-unsur kebudayaan yang ada kurang menunjang pencapaian status kesehatan
yang optimal. Unsur-unsur tersebut antara lain; ketidaktahuan, pendidikan yang
minim sehingga sulit menerima informasi-informasi dan tekhnologi baru.
Mengingat keadaan tersebut, kita perlu memperhatikan
aspek sosial budaya masyarakat dalam kaitannya dengan keadaan kesehatan di
Indonesia. Sehingga kita dapat melihat penyakit atau masalah kesehatan bukan
saja dari sudut gejala, sebab-sebabnya, wujud penyakit, obat dan cara
menghilangkan penyakit, tetapi membuat kita untuk berfikir tentang bagaimana
hubungan sosial budaya, geografi, demografi, dan persepsi masyarakat dengan
masalah yang sedang dihadapi.
Melihat luasnya masalah kesehatan yang dihadapi, maka
bidan sebagai petugas kesehatan harus mempelajari ilmu-ilmu lain yang terkait
dengan kesehatan. Sehingga pelayanan yang diberikan memberikan hasil yang
optimal.
Di bawah ini kita dapat melihat bagaimana hubungan
antara sosial budaya dengan pembangunan kesehatan, khususnya pembangunan
kesehatan masyarakat.
B.
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas adapun rumusan masalahnya :
1.
Apa pengertian Budaya?
2.
Apa saja Budaya Masyarakat Jawa Barat?
3.
Bagaimana peranan seorang Bidan?
C.
TUJUAN
PENULISAN
Berdasarkan rumusan masalah diatas adapun tujuan penulisannya :
1.
Mengetahui pengertian dari budaya.
2.
Mengetahui Budaya-Budaya Masyarakat Jawa Barat pada Ibu hamil
3.
Mengetahui peranan seorang Bidan.
4.
Sebagai tugas mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar
BAB II
PEMBAHASAN
Perawatan
kehamilan merupakan salah satu faktor yang amat perlu diperhatikan untuk
mencegah terjadinya komplikasi dan kematian ketika persalinan, disamping itu
juga untuk menjaga pertumbuhan dan kesehatan janin. Memahami perilaku perawatan
kehamilan (ante natal care) adalah penting untuk mengetahui dampak kesehatan
bayi dan si ibu sendiri.
Fakta di
berbagai kalangan masyarakat di Indonesia, masih banyak ibu-ibu yang menganggap
kehamilan sebagai hal yang biasa, alamiah dan kodrati. Mereka merasa tidak
perlu memeriksakan dirinya secara rutin ke bidan ataupun dokter. Masih
banyaknya ibu-ibu yang kurang menyadari pentingnya pemeriksaan kehamilan ke
bidan menyebabkan tidak terdeteksinya faktor-faktor resiko tinggi yang mungkin
dialami oleh mereka. Resiko ini baru diketahui pada saat persalinan yang sering
kali karena kasusnya sudah terlambat dapat membawa akibat fatal yaitu kematian.
Hal ini
kemungkinan disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya
informasi. Selain dari kurangnya pengetahuan akan pentingnya perawatan
kehamilan, permasalahan-permasalahan pada kehamilan dan persalinan dipengaruhi
juga oleh faktor nikah pada usia muda yang masih banyak dijumpai di daerah
pedesaan. Disamping itu, dengan masih adanya preferensi terhadap jenis kelamin
anak khususnya pada beberapa suku, yang menyebabkan istri mengalami kehamilan
yang berturut-turut dalam jangka waktu yang relatif pendek, menyebabkan ibu
mempunyai resiko tinggi saat melahirkan.
Di
Indonesia yang termasuk negara heterogen terdiri dari macam-macam etnik,
macam-macam suku, termasuk macam-macam budaya yang dilestarikan ditempatnya
masing-masing, suatu budaya pasti ada yang positif dan ada yang negatif. Kita
tidak bisa menghindari budaya tersebut karena kita hidup dalam masyarakat yang
berbeda pemikiran antara individu satu dengan yang lainnya untuk menjaga
keharmonisan bermasyarakat kita tidak boleh menghindari bahkan menghujat budaya
yang berkambang itu. Dalam makalah ini kita akan lebih membahas tentang budaya-budaya
yang berkembang pada masa kehamilan. Kita kenali dahulu budaya-budaya seperti
apa yang sering muncul dimasyarakat.
A.
PENGERTIAN
BUDAYA
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan
dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke
generasi.[1] Budaya
terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.[1] Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak
terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya
diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi
dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya,
membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.[1]
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh.
budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut
menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan
meliputi banyak kegiatan sosial manusia.[2]
Beberapa alasan mengapa orang mengalami
kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam
definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang
dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya
sendiri."Citra yang memaksa" itu mengambil bentuk-bentuk berbeda
dalam berbagai budaya seperti "individualisme kasar" di Amerika,
"keselarasan individu dengan alam" di Jepang dan "kepatuhan kolektif" di Cina.
Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut
membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan
menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat
dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa
bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.
Dengan demikian, budayalah yang menyediakan
suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan
memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.
B.
BUDAYA-BUDAYA
JAWA BARAT
Ø UPACARA DAUR HIDUP MASYARAKAT JAWA BARAT
A. Upacara Adat
Masa Kehamilan
1.
Upacara Mengandung Empat Bulan
Dulu Masyarakat Jawa Barat apabila seorang
perempuan baru mengandung 2 atau 3 bulan belum disebut hamil, masih disebut
mengidam. Setelah lewat 3 bulan barulah disebut hamil. Upacara mengandung Tiga
Bulan dan Lima Bulan dilakukan sebagai pemberitahuan kepada tetangga dan
kerabat bahwa perempuan itu sudah betul-betul hamil.
Namun sekarang kecenderungan orang-orang
melaksanakan upacara pada saat kehamilan menginjank empat bulan, karena pada
usia kehamilan empat bulan itulah saat ditiupkannya roh pada jabang bayi oleh
Allah SWT. Biasanya pelaksanaan upacara Mengandung empat Bulan ini mengundang
pengajian untuk membacakan do’a selamat, biasanya doa nurbuat dan doa lainnya
agar bayinya mulus, sempurna, sehat, dan selamat.
2.
Upacara Mengandung Tujuh Bulan/Tingkeban
Upacara Tingkeban adalah upacara yang
diselenggarakan pada saat seorang ibu mengandung 7 bulan. Hal itu dilaksanakan
agar bayi yang di dalam kandungan dan ibu yang melahirkan akan selamat.
Tingkeban berasal dari kata tingkeb artinya tutup, maksudnya si ibu yang sedang
mengandung tujuh bulan tidak boleh bercampur dengan suaminya sampai empat puluh
hari sesudah persalinan, dan jangan bekerja terlalu berat karena bayi yang
dikandung sudah besar, hal ini untuk menghindari dari sesuatu yang tidak diinginkan.
Di dalam upacara ini biasa diadakan pengajian biasanya membaca ayat-ayat
Al-Quran surat Yusuf, surat Lukman dan surat Maryam.
Di samping itu dipersiapkan pula peralatan
untuk upacara memandikan ibu hamil , dan yang utama adalah rujak kanistren yang
terdiri dari 7 macam buah-buahan. Ibu yang sedang hamil tadi dimandikan oleh 7
orang keluarga dekat yang dipimpin seorang paraji secara bergantian dengan
menggunakan 7 lembar kain batik yang dipakai bergantian setiap guyuran dan
dimandikan dengan air kembang 7 rupa. Pada guyuran ketujuh dimasukan belut
sampai mengena pada perut si ibu hamil, hal ini dimaksudkan agar bayi yang akan
dilahirkan dapat berjalan lancar (licin seperti belut). Bersamaan dengan
jatuhnya belut, kelapa gading yang telah digambari tokoh wayang oleh suaminya
dibelah dengan golok. Hal ini dimaksudkan agar bayi yang dikandung dan orang
tuanya dapat berbuat baik lahir dan batin, seperti keadaan kelapa gading
warnanya elok, bila dibelah airnya bersih dan manis. Itulah perumpamaan yang diharapkan
bagi bayi yang dikandung supaya mendapatkan keselamatan dunia-akhirat.
Sesudah selesai dimandikan biasanya ibu hamil
didandani dibawa menuju ke tempat rujak kanistren tadi yang sudah dipersiapkan.
Kemudian sang ibu menjual rujak itu kepada anak-anak dan para tamu yang hadir
dalam upacara itu, dan mereka membelinya dengan menggunakan talawengkar, yaitu
genteng yang sudah dibentuk bundar seperti koin. Sementara si ibu hamil menjual
rujak, suaminya membuang sisa peralatan mandi seperti air sisa dalam
jajambaran, belut, bunga, dsb. Semuanya itu harus dibuang di jalan simpang
empat atau simpang tiga. Setelah rujak kanistren habis terjual selesailah
serangkaian upacara adat tingkeban.
3. Upacara
Mengandung Sembilan Bulan
Upacara sembuilan bulan dilaksanakan setelah
usia kandungan masuk sembilan bulan. Dalam upacara ini diadakan pengajian
dengan maksud agar bayi yang dikandung cepat lahir dengan selamat karena sudah
waktunya lahir. Dalam upacara ini dibuar bubur lolos, sebagai simbul dari
upacara ini yaitu supaya mendapat kemudahan waktu melahirkan, lolos. Bubur
lolos ini biasanya dibagikan beserta nasi tumpeng atau makanan lainnya.
4. Upacara
Reuneuh Mundingeun
Upacara Reuneuh Mundingeun dilaksanakan
apabila perempuan yang mengandung lebih dari sembilan bulan,bahkan ada yang
sampai 12 bulan tetapi belum melahirkan juga, perempuan yang hamil itu disebut
Reuneuh Mundingeun, seperti munding atau kerbau yang bunting. Upacara ini
diselenggarakan agar perempuan yang hamil tua itu segera melahirkan jangan
seperti kerbau, dan agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Pada pelaksanaannya leher perempuan itu
dikalungi kolotok dan dituntun oleh indung beurang sambil membaca doa dibawa ke
kandang kerbau. Kalau tidak ada kandang kerbau, cukup dengan mengelilingi rumah
sebanyak tujuh kali. Perempuan yang hamil itu harus berbuat seperti kerbau dan
menirukan bunyi kerbau sambil dituntun dan diiringkan oleh anak-anak yang
memegang cambuk. Setelah mengelilingi kandang kerbau atau rumah, kemudian oleh
indung beurang dimandikan dan disuruh masuk ke dalam rumah. Di kota pelaksanaan
upacara ini sudah jarang dilaksanakan.
B. Upacara
Kelahiran dan Masa Bayi
1.
Upacara Memelihara Tembuni
Tembuni/placenta dipandang sebagai saudara
bayi karena itu tidak boleh dibuang sembarangan, tetapi harus diadakan upacara
waktu menguburnya atau menghanyutkannya ke sungai.
Bersamaan dengan bayi dilahirkan, tembuni
(placenta) yang keluar biasanya dirawat dibersihkan dan dimasukan ke dalam
pendil dicampuri bumbu-bumbu garam, asam dan gula merah lalu ditutup memakai
kain putih yang telah diberi udara melalui bambu kecil (elekan). Pendil diemban
dengan kain panjang dan dipayungi, biasanya oleh seorang paraji untuk
dikuburkan di halaman rumah atau dekat rumah. Ada juga yang dihanyutkan ke
sungai secara adat.
Upacara penguburan tembuni disertai pembacaan
doa selamat dan menyampaikan hadiah atau tawasulan kepada Syeh Abdulkadir
Jaelani dan ahli kubur. Di dekat kuburan tembuni itu dinyalakan cempor/pelita
sampai tali pusat bayi lepas dari perutnya.. Upacara pemeliharaan tembuni
dimaksudkan agar bayi itu selamat dan kelak menjadi orang yang berbahagia.
2.
Upacara Nenjrag Bumi
Upacara Nenjrag Bumi ialah upacara memukulkan
alu ke bumi sebanyak tujuh kali di dekat bayi, atau cara lain yaitu bayi
dibaringkan di atas pelupuh (lantai dari bambo yang dibelah-belah ), kemudian
indung beurang menghentakkan kakinya ke pelupuh di dekat bayi. Maksud dan
tujuan dari upacara ini ialah agar bayi kelak menjadi anak yang tidak lekas
terkejut atau takut jika mendengar bunyi yang tiba-tiba dan menakutkan.
3. Upacara
Puput Puseur
Setelah bayi terlepas dari tali pusatnya,
biasanya diadakan selamatan. Tali pusat yang sudah lepas itu oleh indung
beurang dimasukkan ke dalam kanjut kundang . Seterusnya pusar bayi ditutup
dengan uang logam/benggol yang telah dibungkus kasa atau kapas dan diikatkan
pada perut bayi, maksudnya agar pusat bayi tidak dosol, menonjol ke luar. Ada
juga pada saat upacara ini dilaksanakan sekaligus dengan pemberian nama bayi.
Pada upacara ini dibacakan doa selamat, dan disediakan bubur merah bubur putih.
Ada kepercayaan bahwa tali pusat (tali
ari-ari) termasuk saudara bayi juga yang harus dipelihara dengan
sungguh-sungguh. Adapun saudara bayi yang tiga lagi ialah tembuni, pembungkus,
dan kakawah. Tali ari, tembuni, pembungkus, dan kakawah biasa disebut dulur
opat kalima pancer, yaitu empat bersaudara dan kelimanya sebagai pusatnya ialah
bayi itu. Kesemuanya itu harus dipelihara dengan baik agar bayi itu kelak
setelah dewasa dapat hidup rukun dengan saudara-saudaranya (kakak dan adiknya)
sehingga tercapailah kebahagiaan.
4. Upacara Ekah
Sebetulnya kata ekah berasal dari bahasa
Arab, dari kata aqiqatun “anak kandung”. Upacara Ekah ialah upacara menebus
jiwa anak sebagai pemberian Tuhan, atau ungkapan rasa syukur telah dikaruniai
anak oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, dan mengharapkan anak itu kelak menjadi orang
yang saleh yang dapat menolong kedua orang tuanya nanti di alam akhirat. Pada
pelaksanaan upacara ini biasanya diselenggarakan setelah bayi berusia 7 hari,
atau 14 hari, dan boleh juga setelah 21 hari.
Perlengkapan yang harus disediakan adalah
domba atau kambing untuk disembelih, jika anak laki-laki dombanya harus dua
(kecuali bagi yang tidak mampu cukup seekor), dan jika anak perempuan hanya
seekor saja.
Domba yang akan disembelih untuk upacara Ekah
itu harus yang baik, yang memenuhi syarat untuk kurban. Selanjutnya domba itu
disembelih oleh ahlinya atau Ajengan dengan pembacaan doa selamat, setelah itu
dimasak dan dibagikan kepada handai tolan.
5.
Upacara Nurunkeun
Upacara Nurunkeun ialah upacara pertama kali
bayi dibawa ke halaman rumah, maksudnya mengenal lingkungan dan sebagai
pemberitahuan kepada tetangga bahwa bayi itu sudah dapat digendong dibawa
berjalan-jalan di halaman rumah. Upacara Nurun keun dilaksanakan setelah tujuh
hari upacara Puput Puseur. Pada pelaksanaannya biasa diadakan pengajian untuk
keselamatan dan sebagai hiburannya diadakan pohon tebu atau pohon pisang yang
digantungi aneka makanan, permainan anak-anak yang diletakan di ruang tamu.
Untuyk diperebutkan oleh para tamu terutama oleh anak-anak.
6. Upacara
Cukuran/Marhabaan
Upacara cukuran dimaksudkan untuk
membersihkan atau menyucikan rambut bayi dari segala macam najis. Upacara
cukuran atau marhabaan juga merupakan ungkapan syukuran atau terima kasih
kepada Tuhan YME yang telah mengkaruniakan seorang anak yang telah lahir dengan
selamat. Upacara cukuran dilaksanakan pada saat bayi berumur 40 hari.
Pada pelaksanaannya bayi dibaringkan di
tengah-tengah para undangan disertai perlengkapan bokor yang diisi air kembang
7 rupa dan gunting yang digantungi perhiasan emas berupa kalung, cincin atau
gelang untuk mencukur rambut bayi. Pada saat itu mulailah para undangan berdo’a
dan berjanji atau disebut marhaban atau pupujian, yaitu memuji sifat-sifat nabi
Muhammad saw. dan membacakan doa yang mempunyai makna selamat lahir bathin
dunia akhirat. Pada saat marhabaan itulah rambut bayi digunting sedikit oleh
beberapa orang yang berdoa pada saat itu.
7. Upacara
Turun Taneuh
Upacara Turun Taneuh ialah upacara pertama
kali bayi menjejakkan kakinya ke tanah, diselenggarakan setelah bayi itu agak
besar, setelah dapat merangkak atau melangkah sedikit-sedikit. Upacara ini
dimaksudkan agar si anak mengetahui keduniawian dan untuk mengetahui akan
menjadi apakah anak itu kelak, apakah akan menjadi petani, pedagang, atau akan
menjadi orang yang berpangkat.
Perlengkapan yang disediakan harus lebih lengkap dari upacara Nurunkeun, selain aneka makanan juga disediakan kain panjang untuk menggendong, tikar atau taplak putih, padi segenggam, perhiasan emas (kalung, gelang, cincin), uang yang terdiri dari uang lembaran ratusan, rebuan, dan puluh ribuan.
Perlengkapan yang disediakan harus lebih lengkap dari upacara Nurunkeun, selain aneka makanan juga disediakan kain panjang untuk menggendong, tikar atau taplak putih, padi segenggam, perhiasan emas (kalung, gelang, cincin), uang yang terdiri dari uang lembaran ratusan, rebuan, dan puluh ribuan.
Jalannya upacara, apabila para undangan telah
berkumpul diadakan doa selamat, setelah itu bayi digendong dan dibawa ke luar
rumah. Di halam rumah telah dipersiapkan aneka makanan, perhiasan dan uang yang
disimpan di atas kain putih, selanjutnya kaki si anak diinjakan pada padi/
makanan, emas, dan uang, hal ini dimaksudkan agar si anak kelak pintar mencari
nafkah. Kemudian anak itu dilepaskan di atas barang-barang tadi dan dibiarkan
merangkak sendiri, para undangan memperhatikan barang apa yang pertama kali
dipegangnya. Jika anak itu memegang padi, hal itu menandakan anak itu kelak
menjadi petani. Jika yang dipegang itu uang, menandakan anak itu kelak menjadi
saudagar/pengusaha. Demikian pula apabila yang dipegangnya emas, menandakan
anak itu kelak akan menjadi orang yang berpangkat atau mempunyai kedudukan yang
terhormat.
C.
PERAN BIDAN
Menjadi seorang bidan bukanlah hal yang mudah. Seorang
bidan harus siap fisik maupun mental, karena tugas seorang bidan sangatlah
berat. Di Indonesia ini jumlah bidan memang tidak sedikit, tetapi untuk di
pelosok daerah masih banyak masyarakat yang belum paham akan arti dari bidan.
Bidan yang siap mengabdi di kawasan pedesaan, artinya ia juga harus siap dengan
konsekuensi yang akan terjadi. Tak mudah mengubah pola pikir ataupun kebiasaan
masyarakat. Apalagi, masalah proses persalinan. Kehadiran tenaga medis dengan
spesialisasi melayani persalinan kaum perempuan, bagi warga Mercu dan
Muktitama, termasuk hal baru. Selama ini, apabila ada yang akan melahirkan
mereka pada umumnya mengandalkan dukun.
Kendala yang dihadapi bides itu, tak hanya seputar
masalah pendekatan kepada ibu-ibu hamil. Sebagai daerah pedalaman, istri
Irmansyah Putra itu, harus akrab dengan segala keterbatasan infrastruktur.
Antara lain, tentang jaringan listrik yang belum masuk di kampung itu.
Begitupula masalah air bersih. Krisis air paling terasa bila hujan tak kunjung
turun.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Sebenarnya masih banyak beberapa upacara yang berkaitan dengan penyulit
menjelang persalinan, namun demikian pada intinya sama adalah memberi dukungan
positif bagi
seorang ibu yang sedang hamil. Dalam praktek tradisional, memang ada banyak hal
yang tak jarang dikaitkan dengan mitos – mitos dan sedikit berbau tahayul.
Namun demikian kita tidak perlu menyikapinya dengan antipati. Petiklah hal-hal
positif yang tentu saja tidak merugikan bagi ibu hamil. Hal penting adalah
jangan sampai kita lambat laun melupakan warisan kekayaan tradisi asli
nusantara kita terutama di Indonesia ini. Kami yakin kekayaan tradisi dari Sabang hingga Merauke juga banyak yang menarik
untuk dibagikan dan kita pelajari. Siapa lagi yang akan mengakui kekayaan
tradisi dan budaya tersebut jika bukan kita. Jangan lupa tetap periksa teratur
selama kehamilan baik pada dokter kandungan, bidan maupun tenaga kesehatan agar
mendapat bimbingan yang benar dalam menjaga kesehatan selama hamil. Tak lupa
selama kehamilan lebih mendekatkan diri pada Tuhan, mohon keselamatan melalui
doa sesuai agama dan kepercayaan yang kita anut.
B.
SARAN
Kita sebagai seorang bidan yang biasa bersinggungan dengan budaya
yang berkembang dalam masyarakat hendaknya kita bisa menanggapi budaya tersebut
dengan berpikir rasional tidak bersifat antipati. Hal-hal positif tetap
dipertahankan namun dengan memberi pengertian yang benar. Sedangkan hal-hal
negatif diupaya untuk tidak dilaksanakan, bidan harus kreatif dalam memberikaan
pengertian kepada masyarakat supaya tidak terjadi pertikaian.
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar