BAB
II
PEMBAHASAN
Konsep Dasar Penyakit
Kehamilan adalah suatu proses yang normal akan tetapi kebanyakan wanita
akan mengalami perubahan baik dari segi psikologis maupun emosional selama kehamilan.
Sering kali kita mendengar betapa bahagianya dia karena akan menjadi seorang
ibu tetapi tidak jarang ada wanita yang merasa khawatir kalau terjadi masalah
selama kehamilannya misalnya ibu takut dengan anak yang akan dilahirkannya
apakah normal ataukah tidak atau mungkin ibu takut kehilangan kecantikannya.
Sedangkan gangguan psikologis adalah Perubahan psikologi pada ibu hamil
merupakan hal yang normal dan merupakan hal yang individual. Didasarkan pada
teori Revarubin. Teori ini menekankan pada pencapaian peran sebagai ibu,
dimana untuk mencapai peran ini diperlukan proses belajar melalui serangkaian
aktifitas.
A.
Perubahan
Peran Selama Kehamilan
Seiring
dengan bertambahnya usia kehamilan, ibu akan mengalami perubahan psikologis dan
pada saat ini pula wanita akan mencoba untuk beradaptasi terhadap peran barunya
melalui tahapan sebagai berikut :
1.
Tahap Antisipasi
Dalam tahap ini wanita akan mengawali
adaptasi perannya dengan merubah peran sosialnya melalui latihan formal
(misalnya kelas-kelas khusus kehamilan) dan informal melalui model peran (role
model). Meningkatnya frekuensi interaksi dengan wanita hamil dan ibu muda
lainnya akan mempercepat proses adaptasi untuk mencapai penerimaan peran
barunya sebagai seorang ibu.
2.
Tahap Honeymoon (menerima peran, mencoba
menyesuaikan diri)
Pada tahap ini wanita sudah mulai menerima
peran barunya dengan cara mencoba menyesuaikan diri. Secara internal wanita
akan mengubah posisinya sebagai penerima kasih sayang dari ibunya menjadi
pemberi kasih sayang terhadap bayinya. Untuk memenuhi kebutuhan akan kasih
sayang, wanita akan menuntut dari pasangannya. Ia akan mencoba menggambarkan
figur ibunya dimasa kecilnya dan membuat suatu daftar hal-hal yang positif dari
ibunya untuk kemudian ia daptasi dan terapkan kepada bayinya nanti. Aspek lain
yang berpengaruh dalam tahap ini adalah seiring dengan sudah mapannya beberapa
persiapan yang berhubungan dengan kelahiran bayi, termasuk dukungan semangat
dari orang-orang terdekatnya.
3.
Tahap Stabil (bagaimana mereka dapat melihat
penampilan dalam peran)
Tahap sebelumnya mengalami peningkatan sampai
ia mengalami suatu titik stabil dalam penerimaan peran barunya. Ia akan
melakukan aktivitas-aktivitas yang bersifat positif dan berfokus untuk
kehamilannya, seperti mencari tahu tentang informasi seputar persiapan
kelahiran, cara mendidik dan merawat anak, serta hal yang berguna untuk menjaga
kondisi kesehatan keluarga.
4.
Tahap Akhir (perjanjian)
Meskipun ia sudah cukup stabil dalam menerima
perannya, namun ia tetap mengadakan “perjanjian” dengan dirinya sendiri untuk
sedapat mungkin “menepati janji” mengenai kesepakatan-kesepakatan internal yang
telah ia buat berkaitan dengan apa yang akan ia perankan sejak saat ini sampai
bayinya lahir kelak.
B.
Perubahan
dan Adaptasi Psikologi Pada Kehamilan
v Perubahan Psikologis Trimester I (Periode
Penyesuaian) :
Trimester pertama ini sering
dirujuk kepada masa penentuan. Penentuan membuat fakta wanita bahwa ia
hamil.Trimester pertama juga sering merupakan masa kekhawatiran dari penantian.
Segera setelah konsepsi kadar
hormon progesteron dan estrogen dalam tubuh akan meningkat dan ini menyebabkan
timbulnya mual dan muntah pada pagi hari, lemah, lelah dan membesarnya
payudara. Ibu merasa tidak sehat dan seringkali membenci kehamilannya. Banyak
ibu yang merasakan kekecewaan, penolakan, kecemasan dan kesedihan. Seringkali,
biasanya pada awal kehamilannya, ibu berharap untuk tidak hamil. Hampir 80%
kecewa, menolak, gelisah, depresi dan murung.
Kejadian gangguan jiwa sebesar
15% pada trimester I yang kebanyakan pada kehamilan pertama. Menurut kumar dan
robson (1978) 12% wanita yang mendatangi klinik menderita depresi terutama pada
mereka yang ingin menggugurkan kandungannya.
Perubahan psikologis yang terjadi
pada kehamilan trimester I didasari pada teori Revarubin. Teori ini menekankan
pada pencapaian peran sebagai ibu, dimana untuk mencapai peran ini seorang
wanita memerlukan proses belajar melalui serangkaian aktifitas.
Beberapa
tahapan aktifitas penting seseorang menjadi ibu :
1. Taking On
Seorang
wanita dalam pencapaian peran sebagai ibu akan memulainya dengan meniru dan
melakukan peran ibu.
2. Taking In
Seorang
wanita sudah mulai membayangkan peran yang dilakukan
3. Letting Go
Wanita
mengingat kembali proses dan aktifitas yang sudah dilakukannya.
Kehamilan pada trimester I ini cenderung
terjadi pada tahapan aktifitas yang dilalui seorang ibu dalam mencapai perannya
yaitu pada tahap taking on. Pada trimester pertama seorang ibu akan selalu
mencari tanda - tanda untuk lebih meyakinkan bahwa dirinya memang hamil. Setiap
perubahan yang terjadi pada tubuhnya akan selalu diperhatikan dengan seksama.
Karena perutnya masih kecil, kehamilan merupakan rahasia seorang ibu yang
mungkin diberitahukannya kepada orang lain atau dirahasiakannya.
Para wanita juga mungkin akan mengalami
ketakutan dan fantasi selama kehamilan, khususnya tentang perubahan pada
tubuhnya. Mereka khawatir terhadap perubahan fisik dan psikologisnya, jika
mereka multigravida, kecemasan berhubungan dengan pengalaman yang lalu. Banyak
wanita hamil yang mimpi seperti nyata, dimana hal ini sangat menggangu.
Mimpinya seringkali tentang bayinya yang bisa diartikan oleh ibu apalagi bila
tidak menyenangkan.
Bentuk motivasi:
a.
Motivasi suami
Reaksi
pertama seorang pria ketika mengetahui bahwa dirinya akan menjadi seorang ayah
adalah timbulnya kebanggaan atas kemampuannya mempunyai keturunan bercampur
dengan keprihatinan akan kesiapannya menjadi seorang ayah dan menjadi pencari
nafkah untuk keluarganya. Seorang calon ayah mungkin akan sangat memperhatikan
keadaan ibu yang mulai hamil dan menghindari hubungan seks karena takut akan
mencederai bayinya. Ada pula pria yang hasrat seksualnya terhadap wanita hamil
relatif lebih besar. Disamping respon yang diperlihatkannya, seorang ayah dapat
memahami keadaan ini dan menerimanya.
Zaman dahulu
seorang suami ikut mendukung kehamilan istrinya dengan ritual-ritual keagamaan.
Berbeda dengan dukungan yang diberikan oleh suami pada saat ini, bentuk
dukungan yang diberikan oleh suami lebih pada :
1) Untuk saling
berkomunikasi dari sejak awal
2) Menempatkan
nilai – nilai penting dalam keluarga untuk mempersiapkan menjadi orang tua
b.
Motivasi keluarga
Wanita hamil
sering kali merasakan ketergantungan terhadap orang lain. Tapi mungkin bisa
menjadi lebih kuat sesudah bayinya lahir hal ini bisa dipahami karena pada
waktu itu wanita memerlukan keamanan dan perhatian dari seseorang yang sangat
dominan baginya. Keluarga dalam hal ini harus menjadi bagian dalam
mempersiapkan pasangan menjadi orang tua.
Stress yang Terjadi Pada Kehamilan Trimester I
Stress yang Terjadi Pada Kehamilan Trimester I
Ada 2 tipe
stress yaitu yang negatif dan positif, kedua stress ini dapat mempengaruhi
reaksi individu. Ada pula yang bersifat intrinsik dan ekstrinsik.
Stress
intrinsik berhubungan dengan tujuan pribadi dari individu, yang mana individu
berusaha untuk membuat sesempurna mungkin baik dalam kehidupan pribadinya
maupun dalam kehidupan sosialnya secara profesional. Stress ekstrinsik timbul
karena faktor eksternal seperti rasa sakit,kehilangan, kesendirian dan masa
reproduksi.
Menurut
Burnard (1991) stress selama masa reproduksi dapat dihubungkan dengan 3 aspek
utama yaitu :
a.
Stress di dalam individu
b.
Stress yang disebakan oleh pihak lain
c.
Stress yang disebabkan penyesuaian terhadap tekanan social
Stress dari dalam diri dapat terjadi berkenaan dengan kegelisahan terhadap kemampuan beradaptasi dengan kejadian kehamilannya.
Stress dari dalam diri dapat terjadi berkenaan dengan kegelisahan terhadap kemampuan beradaptasi dengan kejadian kehamilannya.
Memperkuat
Ikatan
Kemampuan untuk menyesuaikan diri
dengan kehamilan memberikan kesempatan pada seorang ibu untuk saling memperkuat
hubungan. Dan hubungan yang kuat lebih penting dari yang lainnya. Masa-masa
kehamilan, persalinan dan bulan-bulan sesudahnya merupakan saat – saat yang
sulit. Semakin dekat pada awalnya, akan semakin baik akhirnya. Jadi, pada saat
hidup masih relatif normal, luangkan waktu untuk berdua, berbicara tentang perasaan
pasangannya. Betapapun bahagianya atau sibuknya pasangan suami istri,
kegelisahan yang timbul karena kondisi baru merupakan suatu yang normal.
Kehamilan
dan Libido
Hasrat untuk melakukan hubungan
seks, pada wanita pada trimester pertama ini berbeda- beda. Walaupun pada
beberapa wanita mengalami gairah seks yang lebih tinggi, kebanyakan mereka
mengalami penurunan libido selama periode ini. Keadaan ini menciptakan
kebutuhan untuk berkomunikasi secara terbuka dan jujur dengan suami. Banyak
wanita merasa butuh untuk dicintai dan merasakan kuat untuk mencintai namun
tanpa hubungan seks. Libido sangat dipengaruhi oleh kelelahan, rasa mual,
pembesaran payudara, keprihatinan dan kekhawatiran. Semua ini merupakan bagian
normal dari proses kehamilan pada trimester pertama.
Kehamilan
dan Olahraga
Setelah hamil, mayoritas wanita
dapat melanjutkan aktivitas biasa mereka. Tidak ada bukti bahwa aktivitas yang
teratur, seperti jogging, bermain tennis, berenang, atau melakukan hubungan
seks, dapat menimbulkan masalah seperti keguguran atau fetal malformation
(janin yang cacat) pada kebanyakan wanita normal dan sehat. Kebanyakan dokter
melarang program olahraga baru yang dimulai pada saat hamil, kecuali
latihan-latihan prenatal yang dirancang khusus untuk wanita hamil.
Latihan-latihan yang paling
menguntungkan bagi wanita hamil adalah latihan dengan gerakan yang menguatkan
dinding perut untuk membantu menopang uterus dan otot pinggul yang akan anda
butuhkan untuk mendorong. Latihan kaki juga penting untuk meningkatkan sirkulasi
dan menghindari kram otot yang merupakan sesuatu yang biasa dalam kehamilan.
v Perubahan Psikologis Trimester II (Periode kesehatan yang baik)
a.
Pembagian
perubahan psikologis pada trimester II
Trimester
kedua dapat dibagi menjadi dua fase; prequickeckening (sebelum adanya
pergerakan janin yang dirasakan ibu) dan postquickening (setelah adanya
pergerakan janin yang dirasakan oleh ibu), yang dapat dilihat pada
penjelasan berikut :
1.
Fase prequickening
Selama akhir trimester pertama dan masa preqiuckening
pada trimester kedua, ibu hamil mengevaluasi lagi hubungannya dan segala
aspek di dalammya dengan ibunya yang telah terjadi selama ini. Ibu menganalisa
dan mengevaluasi kembali segala hubungan interpersonal yang telah terjadi dan
akan menjadi dasar bagaimana ia mengembangkan hubungan dengan anak yang akan
dilahirkannya. Ia akan menerima segala nilai dengan rasa hormat yang telah
diberikan ibunya, namun bila ia menemukan adanya sikap yang negatif, maka ia
akan menolaknya. Perasaan menolak terhadap sikap negatif ibunya akan
menyebabkan rasa bersalah pada dirinya. Kecuali bila ibu hamil menyadari bahwa
hal tersebut normal karena ia sedang mengembangkan identitas keibuannya. Proses
yang terjadi dalam masa pengevaluasian kembali ini adalah perubahan identitas
dari penerima kasih sayang (dari ibunya) menjadi pemberi kasih sayang
(persiapan menjadi seorang ibu). Transisi ini memberikan pengertian yang jelas
bagi ibu hamil untuk mempersiapkan dirinya sebagai ibu yang memberikan kasih
sayang kepada anak yang akan dilahirkannya. Trimester kedua sering dikatakan
periode pancaran kesehatan. Ini disebabkan selama trimester ini wanita umumnya
merasa baik dan terbebas dari ketidaknyamanan kehamilan.
2.
Fase postquickening
Setelah ibu hamil merasakan quickening,
identitas keibuan yang jelas akan muncul. Ibu hamil akan fokus pada
kehamilannya dan persiapan menghadapi peran baru sebagai seorang ibu. Perubahan
ini bisa menyebabkan kesedihan meninggalkan peran lamanya sebelum kehamilan,
terutama pada ibu yang mengalami hamil pertama kali dan wanita karir. Ibu harus
diberikan pengertian bahwa ia tidak harus membuang segala peran yang ia terima
sebelum kehamilannya. Pada wanita multigravida, peran baru artinya bagaimana ia
menjelaskan hubungan dengan anaknya yang lain dan bagaimana bila nanti ia harus
meninggalkan rumahnya untuk sementara pada proses persalinan. Pergerakan bayi
yang dirasakan membantu ibu membangun konsep bahwa bayinya adalah individu yang
terpisah dari dirinya. Hal ini menyebabkan perubahan fokus pada bayinya. Pada
saat ini, jenis kelamin bayi tidak begitu dipikirkan karena perhatian utama
adalah kesejahteraan janin (kecuali beberapa suku yang menganut sistem
patrilineal/matrilineal).
b.
Menjaga agar
ikatan tetap kuat
Ketika kehamilan telah terlihat,
ibu dan pasangannya harus lebih sensitif terhadap pengaruh kondisi ini pada
mereka berdua. Ibu hamil sering merasa takut jika pasangannya mendapati dirinya
tidak menarik atau gendut, tapi masalah yang muncul lebih rumit lagi.
Komunikasi adalah kunci untuk menghadapi masalah ini. Tetap cara ini dapat
digunakan bila ibu dan pasangannya tetap terbuka dan memulainya sedini dan
sesering mungkin. Bila salah satu tidak membicarakan latar belakang masalah
yang dirasakan, atau setelah berdiskusi justru merasa depresi, saat itulah
diperlukan penasihat kehamilan dan orang sekitarnya yang dapat menolong ibu dan
pasangannya.
c.
Menjaga
kehamilan yang sehat
Ibu hamil mungkin merasa lebih
baik pada trimester kedua, tapi bukan berarti bagian luar yang berubah, bagian
dalam tubuh pun mengalami perubahan sebagai respon terhadap kehamilan yang
terus berkembang. Beberapa perubahan dapat saja terasa mengganggu, namun ada
juga perubahan yang terasa menyenangkan bagi ibu hamil. Perubahan yang
menyebabkan ketidaknyamanan adalah keadaan yang normal bagi ibu hamil dan ibu
harus diberikan pengertian terhadap kondisi tersebut sehingga ia lebih merasa
nyaman lagi. Beberapa perubahan yang menyenangkan seperti rasa mual berkurang
dibandingkan yang dialami selama trimester pertama, energi bertambah dan
peningkatan libido
d.
Reaksi
orang-orang di sekitar ibu hamil
Tampaknya sang suami juga
mengalami perubahan psikologis seiring perubahan yang dialami istrinya yang
hamil. Pada suatu studi dilaporkan sang suami juga merasakan perubahan nafsu
makan, perubahan berat badan, rasa sakit kepala hingga kecemasan dan ketakutan
dirasakan oleh suami yang istrinya sedang hamil. Saat ini suami lebih aktif
ikut menangani dalam kehamilan istrinya dan turut merasakan tanggung jawab akan
kelahiran bayinya.
Apabila di dalam keluarga terdapat anak sebelumnya, ia akan merasa bingung akan perubahan yang dialami ibunya. Anak perlu diberikan pengertian secara sederhana tentang perubahan yang terjadi dan hal yang akan dihadapi sehubungan dengan kehamilan. Ibu dari wanita hamil tampaknya adalah orang yang sering mengambil peran yang cukup besar selama kehamilan. Ibu hamil tampaknya merasa tergantung akan bantuan dari ibunya dalam menghadapi kehamilan dan persiapan penerimaan bayi yang akan dilahirkan.
Apabila di dalam keluarga terdapat anak sebelumnya, ia akan merasa bingung akan perubahan yang dialami ibunya. Anak perlu diberikan pengertian secara sederhana tentang perubahan yang terjadi dan hal yang akan dihadapi sehubungan dengan kehamilan. Ibu dari wanita hamil tampaknya adalah orang yang sering mengambil peran yang cukup besar selama kehamilan. Ibu hamil tampaknya merasa tergantung akan bantuan dari ibunya dalam menghadapi kehamilan dan persiapan penerimaan bayi yang akan dilahirkan.
e.
Berhubungan
seks
Ada satu lagi perubahan yang
terjadi pada trimester kedua yang harus diimbangi untuk mengatasi
ketidaknyamanan yaitu suatu peningkatan libido yang pada trimester pertama
dihilangkan oleh rasa mual dan lelah. Kebanyakan calon orang tua khawatir jika
hubungan seks dapat mempengaruhi kehamilan. Kekhawatiran yang paling sering
diajukan adalah kemungkinan bayi diciderai oleh penis, orgasme ibunya, atau
ejakulasi.
Ibu hamil dan pasangannya perlu
dijelaskan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam hubungan seks. Janin
tidak akan terpengaruh karena berada di belakang serviks dan dilindungi cairan
amniotik dalam uterus. Namun dalam beberapa kondisi hubungan seks selama
trimester kedua tidak diperbolehkan, mencakup plasenta previa dan ibu dengan
riwayat persalinan prematur.
Selain itu meknisme fisik untuk
saling merapat dalam hubungan seksual akan menjadi sulit dan kurang nyaman,
misalnya berbaring terlentang dan menahan berat badan suami. Namun dengan
mengkreasi posisi yang menyenangkan maka masalah ini dapat diatasi.
Walaupun sebagian ibu hamil
merasakan seks selama hamil terasa meningkat, tidak semua libido wanita meroket
tinggi pada trimester kedua. Perubahan tingkat libido disebabkan variasi
perubahan hormone selama hamil. Karena respon terhadap hormon berbeda, reaksi
masing – masing ibu hamil pun berbeda.
v Perubahan Psikologis Trimester III (penantian
dengan penuh kewaspadaan)
1. Rasa tidak nyaman timbul kembali, merasa
dirinya jelek, aneh, dan tidak menarik.
2. Merasa tidak menyenangkan ketika bayi tidak
lahir tepat waktu.
3. Takut akan rasa sakit dan bahaya fisik yang
timbul pada saat melahirkan, khawatir akan keselamatannya.
4. Khawatir bayi yang akan dilahirkan dalam
keadaan tidak normal, bermimpi yang mencerminkan perhatian dan kekhawatirannya.
5. Merasa
sedih akan terpisah dari bayinya.
6. Merasa kehilangan perhatian.
7. Perasaan mudah terluka atau sensitif.
8. Libido menurun.
Gerakan bayi dan membesarnya perut merupakan
dua hal yang mengingatkan ibu akan bayinya. Kadang - kadang ibu merasa khawatir
bahwa bayinya akan lahir sewaktu - waktu. Ini menyebabkan ibu meningkatkan
kewaspadaannya akan timbulnya tanda dan gejala akan terjadinya persalinan. Ibu
seringkali merasa khawatir atau takut kalau - kalau bayi yang akan
dilahirkannya tidak normal. Kebanyakan ibu juga akan bersikap melindungi
bayinya dan akan menghindari orang atau benda apa saja yang dianggapnya
membahayakan bayinya. Seorang ibu mungkin mulai merasa takut akan rasa sakit
dan bahaya fisik yang akan timbul pada waktu melahirkan. Rasa tidak nyaman
akibat kehamilan timbul kembali pada trimester ketiga dan banyak ibu yang
merasa dirinya aneh dan jelek. Disamping itu ibu mulai merasa sedih karena akan
berpisah dari bayinya dan kehilangan perhatian khusus yang diterima selama
hamil. Pada trimester inilah ibu memerlukan keterangan dan dukungan dari suami,
keluarga dan bidan. Trimester ketiga sering kali disebut periode menunggu /
penantian dan waspada sebab pada saat itu ibu merasa tidak sabar menunggu
kelahiran bayinya. Trimester III adalah waktu untuk mempersiapkan kelahiran dan
kedudukan sebagai orang tua seperti terpusatnya perhatian pada kehadiran bayi.
Trimester ketiga merupakan saat persiapan aktif untuk kelahiran bayi yang akan
dilahirkan dan bagaimana rupanya. Mungkin juga nama bayi yang akan dilahirkan
juga sudah dipilih. Trimester ketiga adalah saat persiapan aktif untuk
kelahiran bayi dan menjadi orang tua. Keluarga mulai menduga - duga tentang
jenis kelamin bayinya ( apakah laki- laki atau perempuan ) dan akan mirip
siapa.
Tanda dan Gejala psikologis pada ibu hamil :
·
Kehabisan
tenaga atau kebanyakan gerak.
·
Tidak
bisa tidur walaupun mempunyai kesempatan.
·
Menangis
tidak tertahan dan mata terasa berlinang.
·
Menyadari
bahwa perasaan amat cepat berubah.
·
Sangat
judes atau peka terhadap bunyi dan sentuhan .
·
Senantiasa
berfikiran negatif.
·
Tanpa
berwujud merasa tidak mampu.
·
Tiba-tiba
takut atau gugup.
·
Tidak bisa
memusatkan perhatian.
·
Lebih
sering lupa
·
Rasa
bingung dan bersalah.
·
Makan
amat sedikit atau amat banyak.
·
Asik
dengan fikiran yang menghantui dan mengerikan.
·
Kehilangan
kepercayaan dan harga diri.
C.
MASALAH
EMOSI SELAMA KEHAMILAN
Prinsip dasar
Kehamilan merupakan
episode dramatis terhadap kondisi biologis, perubahan psikologis dan adaptasi
dari seorang wanita yang pernah mengalaminya. Sebagian besar kaum wanita menganggap
bahwa kehamilan merupakan peristiwa kodrat yang harus dilalui tetapi sebagian
lagi menganggap sebagai peristiwa khusus yang sangat menentukan kehidupan
selanjutnya.
Perubahan kondisi
fisik dan emosional yang komplek, memerlukan adaptasi terhadap penyesuaian pola
hidup dengan proses kehamilan yang terjadi. Konflik antara keinginan prokreasi,
kebanggaan yang ditumbuhkan dari norma – norma sosiokultural dan persoalan
dalam kehamilan itu sendiri, dapat merupakan pencetus berbagai reaksi psikologis,
mulai dari reaksi emosional ringan hingga ketingkat gangguan jiwa yang berat.
Dukungan psikologik
dan perhatian akan memberi dampak terhadap pola kegiatan sosial (
keharmonisan, penghargaan, pengorbanan, kasih sayang dan empati) pada wanita
hamil dan dari aspek teknis, dapat mengurangi aspek sumber daya (tenaga ahli),
cara penyelesaian persalinan normal, akselerasi, kendali nyeri dan asuhan
neonatal),
Hubungan episode kehamilan dengan reaksi
psikologis yang terjadi.:
· Trimester 1 :
Sering
terjadi fluktuasi lebar aspek emosional sehingga perode ini mempunyai
resiko tinggi untuk terjadi pertengkaran atau rasa tidak nyaman.
· Trimester II :
Fluktuasi
emosional sudah mulai mereda dan perhatian wanita hamil lebih terfokus pada
berbagai perubahan tubuh yang terjadi saat kehamilan, kehidupan seksual
keluarga dan hubungan bathiniah dengan bayi yang dikandungannya.
· Trimester III :
Berkaitan
dengan bayangan resiko kehamilan dan proses persalinan sehingga wanita hamil
sangat emosional dalam upaya mempersiapkan atau mewaspadai segala sesuatu yang
akan dihadapi.
þ Masalah
· Aspek psikologik dan pengaruhnya pola
kehidupan keluarga dan tahapan trimester.
· Gangguan emosional dapat mengganggu kesehatan
ibu dan janin yang dikandungnya.
· Hambatan asuhan neonatal pasca persalinan.
þ Penanganan umum
Reaksi cemas
à Gangguan ini ditandai dengan rasa cemas dan
ketakutan yang berlebihan, terutama sekali terhadap hal-hal yang masih
tergolong wajar.
à Kecemasan baru terlihat apabila wanita
tersebut mengungkapkannya karena gejala klinik yang ada, sangat tidak spesifik
(twitchung, tremor, berdebar-debar, kaku otot, gelisah dan mudah lelah,
insomnia)
à Timbul gejala-gejala somatik akibat
hiperaktifitas otonom (palpitasi, sesak nafas, rasa dingin ditelapak tangan,
berkeringat dingin, pusing, rasa terganjal pada leher).
à Tenangkan dengan psikoterapi. Walau
kadang-kadang upaya ini kurang memberi hasil tetapi prosedur ini sebaiknya
paling pertama dilakukan.
à Hanya pada pasien dengan reaksi cemas berat,
berikan diazepam 3 x 2 mg per hari.
à Bila pasien tidak mampu untuk melakukan
kegiatan sehari-hari atau kekurangan asupan kalori/gizi maka harus dilakukan
rawat inap di rumah sakit.
Reaksi panik
à Ditandai dengan rasa takut dan gelisah yang
hebat, terjadi dalam periode yang relatif singkat dan tanpa sebab-sebab yang
jelas.
à Pasien mengeluhkan nafas sesak atau rasa
tercekik, telinga berdenging, jantung berdebar, mata kabur, rasa melayang,
takut mati atau merasa tidak akan tergolong lagi.
à Pemeriksaan fisik menunjukkan pasien gelisah
dan ketakutan, muka pucat pandangan liar, pernafasan pendek dan cepat dan
takhikardi.
à Tenangkan secara verbal, sebelum psikoterapi
atau medikamentosaa. Sebaiknya pasien dirawat untuk observasi tehadap reaksi
panik ulangan dan pemberian terapi.
à Karena reaksi panik hanya berlangsung dalam
waktu yang relatif singkat, cukup diberikan dosis tunggal diazepam 5 mg IV.
Reaksi Obsesif-Kompulsif
à Gambaran spesifik dari gangguan ini adalah
selalu timbulnya perasaan, rangsangan ataupun pikiran untuk melakukan sesuatu,
tanpa objek yang jelas, diikuti dengan perbuatan yang dilakukan secara berulang
kali.
à Pengulangan perbuatan tersebut dapat
mencelakai dirinya, bayi yang dikandung atau orang lain.
à Adanya potensi gawat darurat pada wanita
hamil dengan reaksi obsesif-kompulsif menjadi alasan untuk dirawat di
rumah sakit atau dalam pengawasan tim medis yang memadai. Psikoterapi
cukup membantu untuk mengembalikan wanita ini pada status emosional yang
normal.
à Pada kasus yang berat, beri diazepam 5 mg IV
dan observasi ketat.
Depresi berat
à Depresi pada wanita hamil, ditandai oleh
perasaan sedih, tidak bergairah, menyendiri, penurunan berat badan, insomnia,
kelemahan, rasa tidak dihargai dan pada kasus yang berat, ada keinginan untuk
melakukan bunuh diri.
à Penelitian di RS Dr. Sutomo, Surabaya (1990)
menunjukkan angka kejadian Depresi Pascapersalinan (Postpartum Blues) sebesar
15,2 % (persalinan fisiologis) dan 46,2 % (persalinan patologis).
à Sulit untuk melakukan komunikasi karena
mereka cenderung menarik diri, tidak mampu berkonsentrasi, kurang perhatian dan
sulit untuk mengingat sesuatu .
à Gunakan anti depresan Amitryptyline 2 x 10 mg
oral.
à Terapi kejutan listrik (ECT) digunakan
apabila psikofarmaka gagal dan reaksi depresi membahayakan pasien.
Perasaan panik/ gelisah
Berkaitan dengan
kemampuanya untuk menjaga kehamilan sampai saat persalinan sebagai
seorang ibu hamil yang baik. Respon-respon psikologis tersebut terjadi karena
ibu merasa bahwa kehamilannya ini merupakan suatu ancaman, kegawatan, ketakutan
dan bahaya bagi dirinya dan sebagai akibat yang akan terjadi pada dirinya,
sehingga mereka akan bersikap tidak hanya menolak kehamilannya tetapi juga akan
berusaha menggugurkan kehamilannya bahkan kadang-kadang mencoba bunuh diri.
D.
Gambaran
Kondisi Psikologis pada Wanita Hamil
Selama
kehamilan banyak wanita yang mengalami perasaan – perasaan :
þ Marah
þ Tertekan
þ Bersalah
þ Bingung
þ Was – was
þ Kesal
þ Pilu
þ Khawatir
Hal
ini biasanya ditandai dengan gejala – gejala :
þ Kehabisan tenaga atau kebanyakan gerak.
þ Tidak bisa tidur walaupun mempunyai
kesempatan.
þ Menangis tidak tertahan dan mata terasa berlinang.
þ Menyadari bahwa perasaan amat cepat berubah.
þ Sangat judes atau peka terhadap bunyi dan
sentuhan.
þ Senantiasa berfikiran negatif.
þ Tanpa berwujud merasa tidak mampu.
þ Tiba-tiba takut atau gugup.
þ Tidak bisa memusatkan perhatian.
þ Lebih sering lupa.
þ Rasa bingung dan bersalah.
þ Makan amat sedikit atau amat banyak.
þ Asik dengan fikiran yang menghantui dan
mengerikan.
þ Kehilangan kepercayaan dan harga diri.
Apabila kondisi -
kondisi ini terjadi secara beruntun sedikitnya selama 2 minggu maka akan
menimbulkan kondisi psikologis yang bermasalah yang sifatnya memerlukan adanya
pengobatan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi
psikis pada masa hamil :
1.
Sudah
punya banyak
anak
Banyak anak sebagian orang merasakan sebagai
beban finansial yang harus di tanggung, belum lagi di tambah kerepotan -
kerepotan lainnya, apalagi jika dalam keluarga sudah ada anak dengan jumlah lebih
dari cukup.
2. Khawatir berubah
penampilan
Bagi sebagian perempuan, penampilan merupakan
nilai jual, perubahan bentuk wajah dan tubuh akibat kehamilan dan persalinan
dianggap akan mengurangi keindahan penampilan.
3. Kemampuan finansial dirasa tidak
memadai.
Jika si kecil lahir di saat kondisi keuangan
keluarga tengah morat marit memang merepotkan, kondisi ini merupakan hal yang
sangat menganggu kondisi psikologis seorang ibu
hamil.
4.
Keluhan
sulit tidur
Sulit tidur di malam hari dapat membuat kondisi
ibu hamil menurun, konsentrasi berkurang, mudah lelah, badan terasa pegal,
tidak mood bekerja dan cenderung emosional. Keluhan tidur umumnya muncul saat
usia kandungan memasuki trimester ketiga dimana janin sudah tumbuh sedemikian
besar sehingga terasa menyesakkan.
Ditrimester pertama, kadar hormon dalam tubuh
ibu sedang mengalami perubahan drastis yang sering memunculkan keluhan muntah –
muntah, sehubungan dengan itu, keluhan sulit tidur biasanya muncul karena
sebab sebagai berikut :
·
Stres
·
Perubahan
hormon
·
Dihantui
kecemasan
·
Gangguan
psikis
E.
Cara
Mengatasi Gangguan Psikologis Kehamilan
Ibu yang sedang hamil, pasti akan mengalami
berbagai macam perubahan bukan hanya perubahan secara fisik namun juga secara
psikologis. Jangan heran jika ibu yang hamil tiba-tiba menangis atau marah. Ini
terjadi karena adanya perubahan hormonal yang lazim dialami oleh ibu-ibu yang
sedang hamil.
Untuk itu ibu-ibu yang kini sedang mengandung
buah hati, harus selalu menjaga kondisi psikologisnya agar tetap baik dan
seimbang. Jika kondisi psikologis sang ibu baik pastinya sang ibu akan lebih
tenang atau rileks saat menjalani masa-masa kehamilannya.
Berikut
beberapa cara yang dapat menyeimbangkan kondisi psikologis saat ibu sedang
mengandung:
1. Informasi
Cari informasi seputar kehamilan terutama
mengenai perubahan yang terjadi dalam diri ibu termasuk hal-hal yang perlu
dihindari saat sedang mengandung agar janin tumbuh sehat. Pengetahuan atau
informasi yang tepat akan membuat ibu merasa lebih yakin sekaligus bisa
mengurangi rasa cemas yang sering muncul karena ketidaktahuan mengenai
perubahan yang terjadi.
2. Komunikasi
dengan suami
Bicarakan perubahan yang terjadi selama hamil
dengan sang suami, sehingga ia juga tahu dan dapat memaklumi perubahan yang
terjadi. Apabila sudah dikomunikasikan, sang suami akan memberikan dukungan
psikologis yang dibutuhkan.
3. Rajin
chek-up
Periksakan kehamilan secara teratur. Cari
informasi dari dokter atau bidan terpercaya mengenai kehamilan. Jangan lupa,
ajaklah suami saat berkonsultasi ke dokter atau bidan.
4. Makan
Sehat
Pahami benar pengetahuan mengenai asupan
makanan yang sehat bagi perkembangan janin. Hindarilah mengonsumsi bahan yang
dapat membahayakan janin, seperti makanan yang mengandung zat-zat aditif,
alkohol, rokok, atau obat-obatan yang tidak dianjurkan bagi ibu hamil. Jauhkan
juga zat berbahaya seperti gas buang kendaraan yang mengandung timah hitam yang
berbahaya bagi perkembangan kecerdasan otak janin.
5. Jaga
Penampilan
Perhatikanlah penampilan fisik dengan menjaga
kebersihan dan berpakaian yang sesuai dengan kondisi badan yang sedang berbadan
dua. Jangan lupa untuk melakukan latihan fisik ringan, seperti berenang atau
jalan kaki ringan untuk memperlancar persalinan.
6. Kurangi
Kegiatan
Lakukanlah penyesuaian kegiatan dengan
kondisi fisik saat hamil. Memasuki masa persalinan, ibu hamil dan suami harus
sudah siap dengan berbagai perubahan yang akan terjadi setelah kelahiran sang
bayi.
7. Dengarkan
Musik
Upayakan berbagai cara agar terhindar dari
stres. Atasilah kecemasan maupun emosi negatif lainnya dengan mendengarkan
musik lembut, belajar memusatkan perhatian, berzikir, yoga atau relaksasi
lainnya.
8. Senam
Hamil
Bergabunglah dengan kelompok senam hamil
sejak usia kandungan menginjak usia 5-6 bulan. Jangan lupa untuk berkonsultasi
terlebih dahulu dengan dokter kandungan. Senam hamil tidak hanya bermanfaat
melatih otot-otot yang diperlukan dalam proses persalinan, melainkan juga
memberi manfaat psikologis. Pertemuan sesama calon ibu biasanya diisi dengan
acara berbagi pengalaman yang dapat dijadikan pelajaran positif. Melalui
kegiatan itu pula secara perlahan kesiapan psikologis calon ibu dalam
menghadapi persalinan menjadi semakin mantap.
9. Latihan
Pernafasan
Lakukanlah latihan relaksasi dan latihan
pernapasan secara teratur. Latihan ini bermanfaat untuk ketenangan dan
kenyamanan sehingga kondisi psikologis bisa lebih stabil.
F.
Peran
bidan dalam persiapan psikologis ibu hamil trimester I, II, III
1. Mempelajari
keadaan lingkungan penderita
Ibu hamil yang selalu memikirkan
mengenai keluarga, keuangan, perumahan dan pekerjaan dapat juga menimbulkan
depresi dan perlu penanggulangan. Untuk itu bidan harus melakukan pengkajian
termasuk keadaan lingkungan (latar belakang) sehingga mempermudah dalam
melakukan asuhan kebidanan.
2. Informasi
dan pendidikan kesehatan
a. Mengurangi
pengaruh yang negative
Kecemasan dan ketakutan sering
dipengaruhi oleh cerita – cerita yang menakutkan mengenai kehamilan dan
persalinan, pengalaman persalinan yang lampau atau karena kurangnya pengetahuan
mengenai proses kehamilan dan persalinan. Keadaan tersebut perlu diimbangi
dengan pendidikan mengenai anatomi dan fisiologi kehamilan dan persalinan
kepada penderita.
b. Memperkuat
pengaruh yang positif
Misalnya dengan memberikan
dukungan mental dan penjelasan tentang kebahagiaan akan mempunyai anak yang diinginkan
dan dinantikan.
c. Menganjurkan
latihan – latihan fisik seperti senam hamil untuk memperkuat otot – otot dasar
panggul, melatih pernafasan, teknik mengedan yang baik dan latihan – latihan
relaksasi.
3. Adaptasi
pada lingkungan tempat bersalin
4. Dilaksanakan
dengan mengadakan orientasi : memperkenalkan ruang bersalin, alat – alat
kebidanan dan tenaga kesehatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar